Tuesday, September 23, 2014

Mengangkat Tangan & Mengusap Saat Qunut

Para ulama mazhab Syafii berbeda pendapat terkait apakah saat membaca qunut, perlu mengangkat tangan dan mengusap wajah?

Imam an-Nawaawi dalam kitab al-Adzkar menyebutkan bahwa ada 3 pendapat berbeda soal ini.

Pertama, mengangkat tangan dan mengusap wajah.

Kedua, mengangkat tangan saja tanpa mengusap wajah

Ketiga, tidak mengangkat tangan dan tidak pula mengusap wajah.

Wednesday, September 17, 2014

Apakah Jari Telunjuk Perlu Digerak-gerakkan saat Tasyahud?

Apakah disunnahkan berisyarat dengan jari telunjuk saat tasyahud?
Kapan waktu isyarat dilakukan?
Apakah perlu menggerak-gerakkan jari telunjuk berkali-kali atau cukup sekali?
Apakah jari telunjuk tangan kiri juga perlu berisyarat?
Apabila jari telunjuk tangan kanan putus, apakah perlu digantikan oleh telunjuk tangan kanan?

Jawab:
Disunnahkan mengangkat jari telunjuk tangan kanan tepat saat mengucapkan "alif" dalam kalimat إلا الله sekali saja. Tanpa harus menggerak-gerakkannya. Apabila jari telunjuk digerakkan berkali-kali, maka hukumnya makruh, tapi tidak mengakibatkan batalnya shalat--menurut pendapat yang shahih dalam madzhab Syafii. Ada pula ulama yang berpendapat: batal.

Tidak perlu berisyarat dengan jari telunjuk tangan kiri, walaupun jari telunjuk tangan kanan putus.

Sumber:
Fatawa Imam Nawawi, juz 1 hlm. 50

Bid'ahkah Berjabat Tangan Usai Shalat?

Perkara ini amat umum terjadi di masyarakat kita. Baik di kota, apalagi di desa-desa. Begitu selesai shalat, kaum muslimin kemudian bersalaman (Berjabat Tangan) dengan 2 orang di samping kanannya dan 2 orang di samping kirinya. Bahkan, ada pula yang bersalaman dengan beberapa orang (jamaah) yang ada di belakangnya.

Para ulama sepakat bahwa bersalaman (mushafahah) antar sesama muslim amat dianjurkan saat bertemu baik di suatu majlis, jalan, kantor, masjid, sekolah, maupun tempat-tempat lainnya.

Terdapat riwayat sebagai berikut:
Qatadah bertanya pada Anas, "Adakah bersalaman menjadi kebiasaan di kalangan sahabat?"
"Iya," jawab Anas.
[HR Bukhari]

Sahabat Barra' bin Aziz meriwayatkan bahwa Rasulullah berada, "Tidaklah dua orang muslim bertemu kemudian saling bersalaman, melainkan diampuni doanya sebelum keduanya berpisah."
[HR Abu Dawud & Ibnu Makkah]

Nah, bagaimana sebenarnya hukum perbuatan  ini? Apakah disunnahkan? Atau justru sebuah bid'ah?

Iman An-Nawawi (penyusun kitab Arbain an-Nawawi, Syarah Muslim, Al-Adzkar An-Nawawi, dan lain-lain) dalam kitab Fatawanya menyebutkan:

"Berjabat tangan hukumnya sunnah saat bertemu (dengan orang lain). Adapun apabila perbuatan ini khusus dilakukan hanya setelah shalat Ashar dan Subuh, maka menurut saya ini adalah termasuk bid'ah yang mubah."

"Pendapat yang terpilih (mukhtar) adalah: apabila seseorang itu sudah bertemu (bersalaman) dengan yang bersangkutan sebelum shalat, maka perbuatan berjabat tangan usai salam hukumnya bid'ah yang mubah (diperbolehkan). Namun, apabila orang yang di sampingnya adalah orang yang baru ditemuinya maka bersalaman itu hukumnya mustahab (sunnah); karena itu adalah awal pertemuan."

Sumber: Kitab Fatawa An-Nawawi, juz 1 hlm. 56.

Jadi, tidak ada masalah untuk bersalaman tiap usai salat. Tapi, menurut hemat saya (penulis blog), hendaklah kita bersikap arif dalam hal ini 
Kita bisa melihat kondisi orang-orang di sekitar kita. Apakah terlihat tanda-tanda bahwa mereka orang yg biasa bersalaman ataukah sebaliknya. Kita tinggal menyesuaikan saja.

Saturday, February 1, 2014

Doa Iftitah

Diantara doa yang dibaca musholli ketika mengawali shalatnya ialah doa iftitah. Sesuai namanya, doa iftitah yang berarti pembukaan, dibaca pada awal shalat. Tepat setelah takbiratul ihram. Dalam pembelajaran tata cara shalat, kita menemukan beberapa versi doa iftitah.

Berikut ini di antara variasi doa iftitah yang admin temukan: