Tuesday, June 30, 2015

Kiai Baqir, Tarawih Cepet, Shalat Sendirian Jangan Tanya

Ribut-ribut soal tarawih cepat. Saya teringat dengan almarhum Kiai Baqir, kiai kami di Pesantren Tabah Lamongan.

---------

Saat menjadi imam tarawih kami di pondok, beliau termasuk kategori cepat. Jika dibanding dengan tarawih di masjid-masjid tertentu--yang bahkan bisa khatam 1 juz semalam.

Ya, tarawih dengan imam beliau lamanya sekira 40 - 50 menit. Maklum, bacaannya seputar surat At-Takatsur sampai An-Naas.

Meski terbilang cepat, saya berani jamin, semua shalat kami thuma'ninah. Ini karena, saya ingat-ingat, saya masih sempat membaca tasbih 3x saat ruku' dan sujud. Pun halnya saat i'tidal dan duduk di antara sujud. Masih bisa baca lengkap doanya.

Khusuk apa tidak?
Saya kira bukan tema di sini.
Sebab, itu erat hubungannya dengan individu-individu jamaah.
Atau silakan ikut pelatihan shalat khusuk dulu... hehehe...

--------

Saya mengenal beberapa orang tokoh yang amat rajin tahajud. Bangun tengah malam, shalat sendirian dengan ruku dan sujud panjang.

Namun, seperti halnya Kiai Baqir (Allah yarhamhu), beliau-beliau itu akan meringkas shalatnya kala menjadi imam tarawih di masjid kampungnya.

Saat masih di pondok, saya ingat Kiai Baqir tiap malam selalu keluar dari dalemnya. Sekitar jam 2 malam. Menuju musholla pondok, lalu shalat sendirian di mihrab.

Saya pernah "iseng" ikut makmum di belakang Kiai. Wuihhh, lama berdirinya jangan ditanya. Saking lamanya, setelah Fatihah saya sampai kehabisan surat yang saya baca.

Begitu pula saat ruku', lamanya kira2 sepanjang berdirinya. Entah berapa ratus tasbih yang saya baca ketika itu.

Saat sujud apalagi, lebih laaaaama lagi. Andai sujudnya di karpet keras, mungkin bisa gosong beneran nih jidat.

Saya bahkan tak lagi peduli, berapa lama beliau shalat untuk dua rakaat saja. Mungkin setengah jam lebih utk 2 rakaat itu.

Ketika selesai, beliau masih pula baca zikir dan wirid yang panjang.

Perlahan, saya mundur ke belakang. Balik kandang dan bersiap sahur. Selesai shalat, waktu sahur tersisa sekira 30 menitan kala itu.

Kami rindu padamu, wahai murabbi kami...
اللهم اجعل قبره روضة من رياض الجنة

Cc:
Ibu Aniqoh Aba Zahla Lu'Lu' Bariroh Baqir Nila Huda Baqir

Cc:
Muh Ulinnuha Husnan
Masyhari Masyhari : mungkin punya pengalaman berbeda

Sunan Drajat, 30 Juni 2015
#Ngopi Monas

Tuesday, June 23, 2015

Qiyam Ramadhan yang Seperti Rasulullah saw

Dalam Majmu' Fatawa yang saya kutip teks arabnya kemarin (23/06) di wall facebook saya, Syaikh Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa Qiyam Ramadhan yang seperti dilakukan Rasulullah itu:

a. Menurut Sayyidah Aisyah ra : jumlah rakaatnya tak lebih dari 11

b. Ayat yang dibaca setelah Fatihah adalah : Al Baqarah, An Nisa, Ali Imran. Semuanya, surat2 panjang di awal Al Quran.

c. Dilaksanakan setelah Isya Akhir sampai menjelang waktu sahur. Artinya, tidak pada kisaran jam 19.00 - 21.00.

Jadi,
Bagi yang selama ini bangga dengan tarawih 8 rakaat, karena merasa lebih nyunnah, lebih sesuai dengan perilaku Rasulullah saw, silakan introspeksi diri dulu.

Tak boleh nyinyir dengan ibadah orang lain. Apalagi sampai bilang itu tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah saw.
Atau pakai logika, mau ikut sopir apa ikut kondektur (baca tulisan saya sekitar 2 tahun lalu; tentang logika sesat ikut sopir apa kondektur).

------------

Baris berikutnya, Ibnu Taimiyah lalu menyebutkan bahwa Ubay bin Ka'ab selaku imam qiyamul lail Ramadhan kala itu, tidak mungkin memilih bacaan2 surat yang panjang2.
Karena itulah, solusinya, beliau memperbanyak jumlah rakaat sebagai ganti berdiri lama.

Babat, 24 Juni 2015

Ustadz yang Tidak "Kabur" dari Jamaah di Pertengahan Shalat

Saya mengenal si ustadz itu.
Dari beberapa perbincangan, saya tahu ia cenderung dengan pendapat shabat Umar; bahwa shalat malam terakhir adalah witir.

Namun, dari beberapa kali perjumpaan di masjid ini (kala shalat Tarawih) saya selalu melihatnya mengikuti jamaah hingga shalat berakhir. Yakni 20 rakaat Tarawih ditambah 3 rakaat witir.

Suatu sore, menjelang berbuka saya berkesempatan berbincang dengan beliau. Iseng saya coba tanya; kenapa beliau tidak pernah keluar untuk shalat witir sendiri di rumah--sebagaimana yang banyak dilakukan sebagian jamaah di masjid ini.

Ia mengukir senyum di bibir.
Agak lama terdiam. Seakan tak mau menjelaskan alasan pribadinya. Lama saya diam, menunggu beliau menjelaskan.

"Gini ya, Mas... Memang saya cenderung mengikuti pendapat Sahabat Umar soal shalat penutup di malam hari. Tapi, untuk kasus jamaah di masjid ini, setidaknya saya punya dua alasan kenapa tidak meninggalkan jamaah di masjid sampai imam selesai shalat witir.

Pertama, saya tidak mau terkesan pamer; saya kuatir orang-orang di masjid ini menyangka saya ini ahlinya shalat malam. Tak pernah telat shalat Tahajud. Sehingga, tidak ikut witirnya imam di masjid.

Kedua, saya pernah baca hadis Nabi saw:
من قام مع الإمام حتى ينصرف كتب له قيام ليلة
"Siapa yang shalat (malam) bersama imam hingga imam selesai (shalatnya), maka akan dicatat baginya shalat sepanjang malam."

Saya bayangkan,
Betapa senangnya saya, hanya bersabar menunggu ikut shalat bersama imam hingga selesai, saya bisa dicatat telah melaksanakan shalat sepanjang malam itu.
Kalau soal nanti malam saya bangun lagi untuk shalat, itu biar Allah catat tersendiri aja. Setidaknya, saya sudah dapat pahala shalat satu malam."

Hmmm...
Saya tertegun agak lama.
Tak tahu harus berkata apa, mendengar penuturan beliau...


Babat, 23 Juni 2015

MS Khaled
Barra Kids Wear
GL WJL Konveksi​
#Produksi Aneka kaos dan seragam"

Jumlah Rakaat Tarawih Menurut Ibnu Taimiyah

Sebenarnya, saya malas bahas ginian. Dalilnya shahihnya shalat tarawih 20 rakaat sudah kami ketahui sejak kecil saya. Sejak di bangku MTs (setingkat SMP untuk pendidikan agama).
Namun, kerap kali banyak orang yang syirik dengan amaliyah tetangganya, hanya gara-gara jumlah rakaat yang berbeda ini.

Kok ada saudara-saudara kami yang belajar Islam ini baru di bangku kuliah kemarin. Itu pun semester akhir. Lalu dengar ceramah ustadz muda di masjid kampus. Sang ustadz menyitir hadis Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah ra tentang jumlah shalat beliau di bulan Ramadhan dan di luar Ramadhan yang tidak lebih dari 11 rakaat.