Thursday, December 17, 2015

Nasihat Pernikahan Kiai Salim Azhar

Ringkasan Tausiyah KH. Salim Azhar (Sendang Duwur) disampaikan dalam rangka walimah urs H. Zahroni A. Pratama & Nur Hamidah
Paciran, 17/12/2015

# Semestinya, yang hadir beri mauizhah adalah KH. Abdul Ghofur. Karena berhalangan, beliau pasrahkan kepada Kyai Salim.

- Kiyai Makhdum Ibrahim, Sunan Bonang Tuban pernah dawuh, khususnya buat pasangan suami-istri. Sejatinya, dawuh beliau yang dirupakan syair ini bila diresapi, ternyata diambil dari ayat al-Quran, beliau sampaikan dengan dlm bahasa kaum setempat, yaitu Jawa, tanpa menyebutkan bunyi ayatnya.

(Pertama): "Marang Pengeran ayo seng nyedak"
Allah lah yang menentukan jodoh dan nasib seseorang. Manusia bisa punya cita² dan rencana, berharap jodoh yang panjang, terbaik dan rizki yang berkah. Karena itu, seorang manusia dituntut untuk senantiasa pasrah dan tawakkal, mendekat pada-Nya.
Janganlah lupa, suami-istri saling ingatkan. Ajak shalat kluarganya. Suami-istri saling menjaga dari api neraka, ngajak kpd kebaikan dan ketaatan. Meskipun dlm ayat perintah "alladzina" (يا آيها الذين آمنوا قوا أنفسكم وأهليكم نارا) yg notabene lil mudzakkar (laki²), tapi khitabnya untuk jenis laki²&perempuan. Jadi, bukan hanya suami yang ngajak pada kebaikan. Bila istri lalai, ingatkan. Bila suami lalai, ingatkan.

(Kedua): "Maring wong wadon, jo cedak-cedak".

Bintang di langit banyak
Hanya satu yg bercahaya
banyak gadis cantik
tapi adinda sayang yang aku punya.

Semasih perjaka, buka selebarnya mata. Sudah menikah tutup mata serapatnya.
Artinya, bila hendak menikah, pilih yang "shalihah", jangan asal asalan. Kalau sudah menikah, merasa cukuplah. Soal nafsu, gak ada ujungnya.

Jangan sampai, habis nikah, ketemu dengan yang tampak lebih gagah, ganteng dan kaya, lantas istri nyesel dalam hatinya. Sebaliknya, si suami lihat yang lebih cantik, seksi dan penuh pesona, lantas nyesel sama yang ada.

(Ketiga): "Pan petuk celo, ojo dibuka"

Manusia, tempatnya salah, penuh kekurangan, dan tak sempurnya. Jangan sampai, tahu kekurangan pasangan, lantas dibesar²kan, dan na'ubillah bila sampai diceritakan sama orang luar rumah, jadi buah bibir tetangga.

Pilih mencintai atau dicintai?
Jadilah orang yang suka mencintai, bukan hanya ingin dicintai. Orang yang ingin dicintai, cenderung suka menuntut hak, abai terhadap kewajiban, tak suka berbagi. Orang mencintai cenderung ingin berbagi, melayani dan ingin memberi apa saja demu yang dicintai.

Jadilah bojo selayaknya vitamin, bukan formalin bagi pasangan.

(Keempat): "Nek diparingi ojo ditolak"..
Terimalah apa adanya. Diberi nafkah besar, bersyukur,alhamdulilah. Diberi kecilan, juga alhamdulillah. Istri pandai bersyukur, pandai lihat kondisi dan keadaan.
"Masak apa, sayang, hari ini?"
"Soto ayam".
"Alhamdulillah, Mas ngasihnya belanja 50rb."
... Suatu ketika:
"Sayang, hari ini masak apa?"
"Pecek tahu-tempe."
"Lah kok, cuma tahu tempe?"
"Alhamdulillah, kan ngasih 10rb buat belanjanya, hari ini!"
Hehehe
Jangan bilang "inna lillah", krn merasa kurang, saat diberi dikit, kalau memang dompet suami lagi seret.

Demikian sebagin catatan yang sempat ditulis. Semoga bermanfaat bagi penulis dan juga bagi yang baca.
Wallahu a'lam
"Selamat menempuh hidup baru buat sepupuku Zahroni. Hidup berumah tangga bagai samudera luas yang penuh ombak dan badai. Semoga biduk kalian mampu lewati segala musim dan aral, menuju tanjung harapan.
بارك الله لك وبارك عليك وجمع بينكما في خير...

Ditulis oleh : Masyhari, Lc., MA.

No comments:

Post a Comment