Wednesday, January 13, 2016

Barokah dalam Menuntut Ilmu

Di dalam tradisi pesantren, menuntut ilmu bukan sekedar mendapat transmisi dan transfer pengetahuan dari guru (kiai atau ustadz) kepada santri. Tradisi pesantren memperkenalkan satu konsep yang tidak dikenal di lingkungan pendidikan moderen, yaitu keberkahan ilmu atau futuh. Keberkahan ilmu itu diperoleh tidak harus melalui metode belajar di kelas, seperti yang lazim kita kenal. Terkadang keberkahan itu justru diperoleh dari ridho (kerelaan) guru kepada muridnya.

Tersebutlah Mama (Kiai) Abdullah bin Nuh mempunyai seorang murid yang dikenal tidak pandai seperti murid-murid lainnya. Ia mempunyai masalah dengan mengingat semua materi yang diajarkan Mama. Namun, masalah itu tidak membuatnya putus asa untuk mendatangi ta'lim sang guru. Dia memutuskan untuk berkhidmah saja kepada sang guru sebagai penutup kekurangannya. Singkat cerita, Mama Abdullah bin Nuh sakit keras. Karena penyakitnya, beliau tidak bisa beranjak dari tempat tidurnya. Sehingga, untuk buang hajat pun dilakukan di tempat tidurnya. Di saat gurunya lemah seperti itu, santri yang bodoh ini yang menjadi penopangnya. Baktinya kepada sang guru, tidak membuatnya jijik membersihkan kotoran sang guru. Hingga, pada saatnya menjelang ajalnya, sang guru berkata bahwa dari semua muridnya santri yang bodoh ini yang paling ia ridhoi. Mama Abdullah bin Nuh pun berpulang ke rahmatullah meninggalkan keluarga dan semua muridnya, termasuk santri yang bodoh ini. Semuanya bersedia tidak terkecuali santri yang bodoh nan setia ini.

Tak lama berselang pasca wafatnya Mama Abdullah bin Nuh, keajaiban pun terjadi. Santri yang semula bodoh itu mendadak menjadi alim. Teka teki ilmu nahwu dan shorof yang dulu mustahil ia kuasai, secara tiba-tiba dapat dengan mudah ia jelaskan. Begitu pula dengan ibarot (deskripsi masalah) yang terdapat di dalam kitab-kitab fiqih dan tasawwuf dapat dengan mudah ia jelaskan. Padahal, dulu semasa masih ada Mama, sampai jungkir balik santri ini menghapal Safinah dan jurmiyyah.

Secara rasional, drastisnya perubahan sang santri tidaklah masuk di akal. Bagaimana mungkin, orang bodoh tiba-tiba menjadi demikian berilmu. Tapi, itulah anugerah Allah, seperti dikatakan Nabi:

من يرد الله  به خيرا يفقه فى. الدين

Siapa yang diinginkan Allah dengan kebaikan, pasti Allah pahamkan dia di dalam masalah agama.

Dari kisah itu, pelajaran yang bisa kita  ambil adalah bahwa belajar ilmu agama itu tujuannya adalah bukan untuk menjadi alim. Tapi, tujuanya adalah untuk mendapatkan keberkahan. Dan di antara sebab keberkahan itu adalah dengan memuliakan guru. Bukan meninggalkan sampah di rumah guru.

Oleh: Kiai Abdi Kurnia

No comments:

Post a Comment