Monday, January 4, 2016

Eksekusi Massal 47 Teroris di Saudi

Oleh: Prof. Sumanto Al-Qurtuby

"Kuliah virtual" singkat kali ini ttg eksekusi massal hukuman mati thd 47 tersangka gerakan terorisme, separatisme, sektarianisme & ekstremisme yg sdg "heboh". Dari 47 itu, dua nama sangat pupuler: Shaikh Nimr Baqir al-Nimr (tokoh "sayap radikal" Syiah) dan Faris Al-Shuwail (gembong Al-Qaeda di Saudi). Sebagian besar mrk dihukum krn kasus "terorisme domestik" yg menimpa Arab Saudi sejak beberapa tahun silam. Hukuman thd "kelompok teroris" ini semakin gencar sejak Kementerian Dalam Negeri dipimpin oleh Putra Mahkota Muhammad bin Nayef yg "digadang-gadang" oleh Amerika & warga Saudi sbg pemimpin masa depan.

Penting untuk dicatat disini: pertama, Kerajaan Saudi tdk pernah kompromi thd aneka gerakan dan aksi2 terorisme & ekstremisme siapapun pelakunya (Wahabi, Syiah, Sunni, Ikhwan, Al-Qaedah, ISIS, dlsb) karena akan mengganggu & mengancam stabilitas sosial-politik, ekonomi, dan keamanan negara & masyarakat. Bny para tokoh "Wahabi/Ikhwan radikal" yg dipenjara & dieksekusi krn terlibat berbagai kasus kekerasan domestik spt yg menimpa Juhayman al-Utaibi yg pernah "mengkudeta" Mekah.

Kedua, eksekusi thd Shaikh Nimr al-Nimr bukan karena kapasitasnya sbg "tokoh agama Syiah" tapi karena keterlibtannya dlm berbagai upaya makar (separatisme & sektarianisme) thd Pemerintah Saudi. Sejak Revolusi Iran 1979 (dan diperkuat sejak tumbangnya "rezim Sunni" Saddam Hussein Irak), para tokoh Syiah Saudi terbelah: ada yg "pro-Iran", ada yg pro-Saudi. Syaikh Nimr adl salah satu klerik yg dianggap sbg "perpanjangan tangan politik Iran" yg paling gencar dlm melakukan aksi2 resistensi thd Dinasti Saud. Apakah semua tokoh2 Syiah Saudi pro Nimr al-Nimr? Jelas tidak. Ada bny tokoh Syiah Saudi (spt Shaikh Hassan Al-Saffar, Shaikh Jafar Al Shayeb, Sayyid Hasyim al-Salman, dlsb) yg menentang tindakan2 Syaikh Nimr krn dianggap tdk "strategis" dan merugikan warga Syiah Saudi. Banyak para tokoh Syiah Saudi yg lbh memilih "jalan damai" dan bergabung di "Dialog Nasional" yg diprakarsai oleh mendiang Raja Abdullah yg dikenal sangat moderat & toleran thd kaum Syiah.

Akhirul kalam, teman2 di Indonesia tdk usah "overdosis" dlm menanggapi kasus eksekusi thd Nimr al-Nimr ini. Sy lht "kubu liberal" mengkritik keras eksekusi thd tokoh ini sambil mewacanakan ttg diskriminasi HAM Syiah tanpa melihat posisi & aksi2 kubu Syiah yg moderat & pro-Saudi. Sementara "kubu radikal" melihat fenomena ini sbg momentum utk "mengganyang" Syiah di Indonesia tanpa melihat alasan2 eksekusi & peta geo-politik di Saudi & Timur Tengah. Mereka tdk melihat bahwa eksekusi itu bkn lantaran Nimr al-Nimr itu pengikut Syiah yg sesat tapi krn keterlibatannya sbg "spion" dan "pion" Iran di Saudi. Kedua kubu sama2 melakukan "korupsi fakta" utk kepentingan masing2.

Jadi teman2, sekali lagi sy tegaskan, masyarakat Indonesia jangan sampai terbawa arus konflik dan kekerasan geo-politik di Arab & Timur Tengah. Indonesia adalah Indonesia yg memiliki sejarah sendiri & kebudayaan sendiri yg hrs dijaga bersama-sama, jgn sampai menjadi porak-poranda karena mengikuti dan "membeo" perseteruan negara2 lain yg tdk memiliki sangkut-paut dg kepentingan bangsa, negara & Tanah Air tercinta. Demikian khutbah singkat ini. Selamat berhari Minggu...

No comments:

Post a Comment