Monday, January 4, 2016

Studi Banding Diri Kita

*Studi Banding

Berapa usia kita sekarang? Apakah pencapaian yang kita lakukan sudah optimal atau belum? Apakah kita masih pantas bermain-main atau saatnya berpikir serius? Apakah  dan apakah?

Maka, ijinkan saya menulis sebuah: studi banding. Ini bukan studi banding ke LN yang menghabiskan milyaran rupiah macam yang dilakukan Yang Mulia anggota DPR atau pejabat negara, ini simpel studi banding lewat literatur, buku2 yang bisa dibaca siapapun. Kita akan membandingkan kehidupan kita dengan orang yang paling pantas dijadikan teladan. Saya tahu, semua orang tentu punya kekhasan, tapi punya pembanding dalam hidup, bisa menuntun kita melakukan refleksi. Studi banding ini tidak akan rumit, cukup 3 titik penting, sbb:

Usia 12. Nabi Muhammad sudah menemani Paman-nya melakukan perdagangan hingga Syria. Itu bukan perjalanan mudah, itu perjalanan menembus gurun pasir, sambil membawa barang-barang yang bisa dijual. Pengalamannya sebagai pedagang semakin mengesankan di tahun-tahun kemudian, reputasinya sebagai orang yang jujur, adil, dan berahklak baik terbentuk. Tahun-tahun berikutnya, Nabi tidak hanya menemani, beliau sendiri yang membawa barang dagangan.

Usia 25. Di usia yang matang, dengan reputasi pedagang mengagumkan, Nabi Muhammad menikah dengan Khadijah (yang tertarik dengan karakter Nabi). Kehidupan berkeluarga dimulai, menjadi bagian masyarakat, lompat ke fase berikutnya.

Usia 40. Nabi Muhammad menerima wahyu pertama, tugasnya sebagai Nabi dimulai. Lompatan yang sangat penting.

Nah, sekarang, mari bandingkan dengan usia kita. Jika kalian remaja, usia SMP, SMA, maka itulah masa-masa brilian untuk belajar. Satu-dua malah belajar sambil bekerja, membentuk masa depan. Boleh mencari hiburan? Boleh santai? Tentu saja silahkan, namanya juga remaja, tapi jangan lupakan tugas kalian: belajar. Proses ini akan dijalani hingga usia 21-22 tahun, lulus kuliah, kemudian masuk ke dunia kerja. Yang mau jadi dokter, cukup waktunya. Yang mau jadi insinyur, bidan, guru, polisi, tentara, pedagang, pengusaha dsbgnya, dsbgnya,  genap usianya. Di usia 24 tahun, kalian sudah tiba umur matang.

Kemudian tiba di usia 25. Apa yang akan kita lakukan? Nabi menikah. Kita mungkin berbeda jodohnya. Ada yang datang lebih cepat, ada yang datang lebih lambat, namanya juga jodoh, rahasia Allah. Tapi mau cepat atau lambat, usia 25 adalah tonggak penting, kita sudah matang. Seharusnya, mau sudah menikah atau belum, kita sudah punya reputasi yang baik. Oh si A itu adalah anak muda yang oke. Oh si B itu adalah anak muda yang tahu persis mau ngapain, bukan lagi luntang-lantung tidak jelas tujuan. Usia 25 bukan lagi usia remaja. Well, boleh saja mengaku berjiwa muda, tapi berjiwa muda itu bukan berarti kita masih ganjen, manja, ikut2an trend, apalagi masih jadi beban orang lain. Usia 25 kita sudah tahu mana yang positif mana yang mubazir, sia-sia belaka. Kita bisa berpikir terbuka, bisa diajak bicara tentang tanggung-jawab dan masa depan.

Usia 40, adalah titik berikutnya. Apa yang kita capai saat usia kita 40 tahun? Ini lompatan yang sangat menarik. Tentu saja kita tidak akan jadi Nabi, tapi pencapaian apa yang bisa dilakukan saat usia kita 40 tahun? Catat baik-baik: ini bukan soal jabatan, kekuasaan, harta benda, materi, apalagi terkenal, popularitas, melainkan lebih ke: MANFAAT apa yang bisa kita berikan bagi orang banyak saat usia kita 40 tahun? Karena itulah sejatinya kehidupan. Usia 40 tahun kelak (jika kita belum tiba di usia ini), apa saja yang telah saya capai? Apakah kehidupan saya bermanfaat bagi banyak orang lain.

Kurang lebih begitu studi bandingnya. Simpel kan? Sekarang refleksikanlah dengan kehidupan kita. Berapa usia kita, di mana posisi kita. Dalam banyak kasus, kadangkala orang tua kita sudah gregetan banget loh melihat anak-anaknya yang duuuh, ini sebenarnya nyadar umur nggak sih? Saat mereka masih welcome, tetap sayang, bukan berarti kita merasa baik-baik saja. Karena hidup kita itu mau dibawa kemana? Waktu itu kadang “kejam” sekali. Melesat tanpa disadari, bukankah baru kemarin kita masih SD? Bukankah baru kemarin SMP? SMA? Tiba-tiba, ow, ternyata kita sudah di atas 20 tahun.

Pikirkanlah.

*Tere Liye

No comments:

Post a Comment