Monday, February 29, 2016

Mengapa Radikalisme dan Terorisme Tumbuh Subur

MENGAPA RADIKALISME DAN TERORISME TUMBUH SUBUR

Oleh: M. Cholil Nafis

"Hilang satu tumbuh seratus" demikian ibarat dalam pemberantasan radikalisme dan terorisme di Indonesia. sejak dunia dikagetkan dengan pemboman WTC tahun 2001 dan Indonesia digemparkan dengan bom Bali 2002, maka Indonesia tak pernah lepas dari  kejadian dan berita Radikalisme dan terorisme.

Makin banyak program anti radikalisme dan terorisme tapi makin tumbub dan subur pengikut dan gerakannya. 

Ada beberapa hal penyebab mengapa hal tersebut terus marak di Indonesia.

Pertama, sebagian umat marah terhadap kondisi dunia dan Indonesia yg merasa ideologinya dan keadilannya diinjak dan zhalimi.
Kedua, mereka merasa mendapat legitimasi dari ajaran agama untuk melakukan kekerasan.

Ketiga, memahami ajaran agama yg salam dengan semangat yg berlebihan.

Oleh Karenanya, pemberantasan radikalisme dan terorisme perlu dilakukan secara konprehensif, mulai dari pemahaman, prilaku dan tindakan. Secara pemahaman perlu diluruskan bahwa Radikalisme itu berbeda dengan terorisme.

Radik adalah paham yg mendasar dan ini baik, tetapi ketika disandingkan dg isme menjadi paham tersendiri yg memiliki konotasi yg berbeda.

Karenanya, radikalisme secara individu dan tdk mengajak orang lain tdk memberi dampak membahayakan sehingga tidak perlu dihukum. Radikalisme menjadi bahaya jika dikaitkan dengan tindakan teror yg membahayakan orang lain.

Sedangkan terorisme adalah dua kata yg di jadikan satu, yaitu teror kepada orang lain dengan isme atau atas nama paham atau ajaran agama. Maka pemberantasan teror dapat dilakukan dengan pendekatan keamanan oleh aparat sedangkan Isme hanya dapat diberantas melalui pendekatan dialog dan penyadaran oleh agamawan.

Biasanya, terorisme yg didekati oleh kekuatan keamanan saja dampat menubuh suburkan pengikut-pengikut baru disamping yg sudah berjiwa teroris makin teguh.

Ada beberapa istilah yg menimbulkan salah tafsir, diantaranya adalah Jihad, Kafir dan Negara Islam.

Jihad diartikan hanya perang senjata. Padahal arti ini hanya sebagian maknanya saja, artinya lainya yg dominan adalah berjuang untuk kemaslahatan umum, baik itu memberantas kemiskinan, kebodohan atau ketidakadilan.

Kafir diartikan sebagai orang non muslim yg harus diperangi. Padahal kafir memang orang yang tidak seakidah, namu cara memperlalukannya dan memeranginya dg cara yang baik, damai dan kemanusiaan.

Berjihad itu artinya bersungguh-sungguh utk menegakkan kemaslahatan dengan cara baik (ma'ruf). Anehnya, ada yang ingin memberantas terorisme dengan menafikan kata jihad dan kafir yg sebenarnya itu ada dalam lintasan sejarah dan dalam ajaran Islam.

Persepsi tentang mendirikan negara Islam bagian dari yang memicu ketegangan bahkan tindakan terorisme. Sebagian dari mereka masih menganggap Indonesia negaran Thaghut yg harus diperangi melalui senjata (darul harb). Sehingga mereka merencanakan untuk mendirikan agama dan negara dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sebenarnya Islam tak mewajibkan mendirikan negara namun Islam memerintahkan mengakkan keadilan dan kemaslahatan.

Islam sesuai dengan namanya menganjurkan kedamaian sekaligus keadilan. Maka radikalisme yang dikombinasi dengan terorisme tidak sesuai dengan ajaran Islam. Mereka tidak paham, salah paham dan tak mau paham dengan ajaran Islam yang benar sehingga melakukan teror dan kekerasan atas nama agama.

Para tokoh muslim, baik agamawan ataupun intelektual mempunyai tanggung jawab untuk menyapa umat guna meluruskan pemahaman keagamaan agar agama yang menjadi penyelamat tidak berubah menjadi laknat.

Masalah radikalisme yang berujung pada terorisme tak cukup hanya ditangani oleh aparat kemanan saja tetapi juga harus ada andil yang intesif dari tokoh agama dan tokoh masyarakat serta kaum intelektual.

Gambar di bawah ini adalah FGB yg diselenggarakan oleh Program Studi Timur Tengah dan Islam Pascasarjana Universitas Indonesia pada hari Senin, 29 Februari 2016

Friday, February 26, 2016

Agungnya Derajat Orang yang Berilmu

AGUNGNYA DRAJAT ORANG YANG BERILMU

Alangkah agung drajat orang alim atau ahli fiqih,
Ada sebuah ungkapan syi'ir Arab :
لَقَدْ حَقَّ أَنْ يُهْدٰى إلَيْهِ كَرَامَةً لِتَعْلِيْمِ حَرْفٍ وَاحِدٍ أَلْفُ دِرْهَمٍ
" Sungguh benar untuk dihadiahkan kepadanya,
lantaran kemulyaannya ,
untuk mengajarkan satu huruf 1000 dirham "

As Sayyid Abd. Rohman bin Muhammad bin Husain,
bin Umar Mufti negara Hadlromaut,
Beliau menulis dalam kitabnya Bughyatul Mustarsyidin,
Bahwa Imam Suyuthi menuturkan dalam kitab Khumasinya,

Bahwasanya Pahala shodaqoh ada 5 tingkatan :
1- Dilipat gandakan 10 kali bila diberikan
kepada orang yang sehat badannya
2- Dilipat gandakan 90 kali bila diberikan
kepada orang yang buta atau kena cobaan
3- Dilipat gandakan 900 kali bila diberikan
kepada sanak kerabat yang membutuhkan
4- Dilipat gandakan 100.000 kali bila diberikan
kepada kedua orang tua ( ayah dan ibu )
5- Dilipat gandakan 900.000 kali bila diberikan
kepada orang yang 'alim atau ahli fiqih

SEMOGA ANAK CUCU KITA DIJADIKAN OLEH ALLOH, MENJADI ORANG YANG ALIM DAN DAPAT MEMBERIKAN SHODAQOH KEPADA PARA FAQIR MISKIN JUGA PARA GURU MEREKA.

Tuesday, February 23, 2016

Bagaimana Kalian Tidak Disebut Wahabi?

Bagaimana kalian tidak digelar Wahhabi?

Jika mayoritas Ulama’ Ahl al-Sunnah Wa al-Jamaah sebesar Imam Ibn Hajar al-‘Asqalaani dan Imam Nawawi, Imam Hadith Ahl al-Sunnah Wal Jamaah pun ditolak akidah mereka karena berfahaman ‘asyaairah. Apalagi kami yang kecil-kecil ini.

Bagaimana kalian tidak digelar Wahhabi? Jika kalian menolak bermazhab bahkan mensyirikkan bermazhab sedangkan telah dipraktik oleh umat Islam seluruh dunia dari awal  zaman salaf hingga hari ini hatta para ulama’ mujtahid yang bersar-besar juga bermazhab dengan salah satu mazhab Imam yang empat.

Bagaimana kalian tidak digelar Wahhabi?Jika kalian hanya menjadikan kemaksuman kepada tokoh-tokoh kalian saja sehingga pantang dikritik akan terus melenting sedangkan yang mengkritik Imam Ibn Taimiyyah adalah sebesar Imam al-Hâfizh al-Mujtahid Taqiyuddin Ali ibn Abd al-Kafi as-Subki (w 756 H) menulis sebanyak 7 buah kitab mengkritik Imam Ibn Taimiyyah dan banyak  lagi yang sezaman dan yang setelahnya. Ulama yang mengkritik Muhammad Ibn Abdul Wahhab adalah sebesar Mufti al-Haramain (Mekah dan Madinah) pada zaman terakhir Khilafah Uthmaniyyah yang masyhur dengan kitab mukhtasar jiddan syarah matan al-ajrumiyyah dan syarah al-Fiyyah yaitu Syeikhul Islam Sheikh Ahmad Zaini Dahlan.

Bagaimana kalian tidak digelar Wahhabi?Jika kalian mendhaifkan ijtihad ulama’ sebesar Imam al-Syafie, al-Ghazali, al-Nawawi, Ibn Hajar, Syeikh Izuddin Abdissalam, Imam Ramli, Imam Rafi’e, Imam al-Subki dan banyak lagi yang menjadi panutan dan rujukan kepada umat Islam yang berakidah Ahl al-Sunnah Wa al-Jamaah

Bagaimana kalian tidak digelar Wahhabi?Jika kalian tidak pernah berlapang dada dengan perbedaan pandangan sekalipun di dalam masalah khilafiyyah ijtihadiyyah fiqhiyyah yang mana para ulama’ muktabar pun berselisih pandangan. Apakah kalian mengira pandangan ulama’ mujtahid dibatalkan dengan pandangan kalian yang bukan mujtahid? Jika di zaman para sahabat dan para salaf sudah ada perbedaan di dalam memahami Al-Quran dan Al-Hadith bagaimana kalian menyangka hanya kefahaman kalian saja yang benar dan menepati sunnah?

Bagaimana kalian tidak digelar Wahhabi?Jika kalian menolak pengajian tasawwuf dan tarekat secara total sedangkan ilmu dan praktik tasawwuf sinonim dengan ulama’ Ahl al-Sunnah Wa al-Jamaah sebesar Imam Hasan al-Basri, Sheikh Junaid al-Baghdadi, Sheikh Abdul Qadir al-Jilani, Hujat al-Islam Imam al-Ghazali dan banyak  lagi.

Bagaimana kalian tidak digelar Wahhabi?Jika kalian merasa hanya kalian saja yang benar-benar Islam dan berada di atas Sunnah Rasulullah SAW dan selain kalian bid’ah sesat dan syirik. Berapa banyak para ulama’ dan umat Islam yang kalian ingin sesatkan dari awal selepas salaf hingga hari ini karena tidak menepati ideologi dan aliran kalian?Jika kalian mengaku Ahl al-Sunnah Wa al-Jamaah maka siapa lagi Imam-Imam Ahl al-Sunnah Wa al-Jamaah yang kalian ikuti jika yang besar-besar sebagai panutan umat Islam ditolak akidah dan perjalanan mereka? Jamaah Islam manakah yang kalian ikuti karena mayoritas umat Islam berakidah al-‘Asyairaah Wa al-Maaturidyyah dan bermazhab dengan salah satu daripada mazhab yang empat yang telah diterima secara talaqqi bi al-Qabul daripada satu generasi kepada satu generasi berantai daripada Rasulullah SAW sehingga kepada kita pada hari ini.

Jika kalian tidak ingin digelar Wahhabi, maka kembalilah kepada manhaj Ahl al-Sunnah Wa al-Jamaah mengikuti mayoritas para ulama’ yang besar-besar. Selama kalian menyelisihi daripada perjalanan mereka, maka selama itu kalian akan digelar dengan al-Wahhabiyyah bertepatan dengan manhaj yang diasaskan oleh Muhammad ibn Abdul Wahhab.

Oleh: Ballung A.

Friday, February 19, 2016

Apakah Orang Tua Rasulullah itu Kafir atau Muslim?

Syekh Hisyam Kamil ditanya oleh seorang muridnya, "Ya Syekh, kami sering mendengar pernyataan mengenai kedua orang tua Rasulullah, katanya mereka itu kafir dan masuk neraka?"

Syekh Hisyam menjawab: Pertanyaan semacam ini, saya berharap kalian tidak terlalu banyak memikirkannya. Karena hal semacam ini jikapun kalian tahu tetap saja tidak bermanfaat apa-apa, jika kalian tidak tahu pun tidak membawa mudarat apapun.

Terdapat sebuah hadis yang melarang kita untuk menghina para orang tua meski mereka kafir, agar keturunan mereka tidak tersakiti karena hinaan tersebut. Coba bayangkan jika kita menghina seseorang lalu anaknya mendengar hinaan itu, ia jelas akan marah.

Islam tidak mencela manusia, justru Islam itu menyatukan manusia. Larangan tadi tertuju bagi orang tua dari orang kafir saat itu. Maka bayangkan jika saat ini --setelah lima belas abad-- datang seorang muslim yang berkata bahwa kedua orang tua Rasulullah kafir dan masuk neraka, siapa yang disakiti? Rasulullah! Padahal Rasulullah tidak ingin menyakiti orang kafir.

Saat Ikrimah dan Fathimah, putra dan putri dari Abu Jahal masuk Islam, para sahabat berkata, "Jika bukan karena Ikrimah, sudah pasti kami akan mencela Abu Jahal"

Dan hadis yang menyatakan bahwa "Orang tuaku dan orang tuamu berada di neraka", itu bisa jadi diucapkan oleh Rasulullah ketika beliau belum mengetahui, hingga Allah memberi tahu beliau.

Terdapat sebuah ayat yang berbunyi, "Kami tidak akan menjatuhkan azab (kepada suatu kaum) sampai kami mengutus kepada mereka seorang rasul". Saat orang tua Rasulullah hidup, saat itu tidak ada seorang rasul. Maka mereka merupakan para "Ahli Fatrah", yaitu manusia yang hidup antara dua nabi.

Lalu bagaimana hukum mereka? Apakah kafir? Muslim? Masuk neraka atau surga? Kita serahkan kepada Allah, jika Allah berkehendak untuk menghukum maka Allah akan menghukum mereka, dan jika berkehendak untuk mengampuni maka Allah akan mengampuni mereka.

Disadur dari pengajian Sirah Nabawiyah bersama Syekh Hisyam Kamil di Wisma Nusantara hari Rabu (2/7)

Khutbah: Membelanjakan Harta di Jalan Allah

Ini naskah khutbah yang kusampaikan di masjid Baiturrahim, Istana Negara, tadi. Ada RI 1 dan 2 di antara jamaah salat Jum'ah tadi.
Membelanjakan Harta di Jalan Allah@

بسم الله الرحمن الرحيم.
الحمد لله القائل في الكتاب المنزل الكريم: {وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ} [2/البقرة: 195] {مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (261). الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ لَا يُتْبِعُونَ مَا أَنْفَقُوا مَنًّا وَلَا أَذًى لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (262). [2/البقرة]
أشهدأن لا اله إلا الله سبحانه وتعالى، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله المصطفى. اللهم صلِّ على وسلِّم نبيك ورسولك محمدٍ وعلى آله وصحبه ومن والى. أما بعد، فيا أيها المؤمنون، أوصيكم وإياي بالتقوى، فقد فاز من اتقى وقد خاب من عصا.
Saudara-saudara kaum Muslim dan Mukmin yang diberkati Allah.
Salah satu bagian penting dalam keberagamaan kita adalah membelanjakan harta di jalan Allah. Apa jalan Allah? Semua hal yang membawa kita kepada keridaan Allah (سبيل الله: ما يوصل إلى مرضاته تعالى), demikian kata seorang ahli tafsir al-Qur’an. Itu dapat berarti membelanjakan harta untuk hal-hal yang baik dan bermanfaat, baik bagi diri sendiri, keluarga, tetangga, orang-orang yang dikenal dan orang-orang-orang yang tak dikenal. Termasuk di dalamnya hal-hal yang memberikan kemanfaatan segera maupun yang manfaatnya baru akan datang beberapa tahun kemudian seperti investasi sosial dan pendidikan.
Kita dianjurkan untuk melakukan hal itu. Anjuran itu sedemikian kuat sehingga disebutkan bahwa perumpamaan nafkah di jalan Allah itu seperti satu biji yang tumbuh menjadi satu batang padi atau gandum dengan tujuh tangkai yang masing-masing berisi 100 biji. Jadi pahalanya dilipatgandakan 700X. Tidak ada perniagaan yang memberikan keuntungan sebanyak itu.

Kaum Muslimin yang disayangi Allah.
Mengapa kita dianjurkan untuk bersedekah atau membelanjakan harta di jalan Allah? Salah satu tujuan agama adalah penguasaan atas diri sendiri dan tidak memperturutkan dorongan alamiah yang tidak patut bagi martabat manusia beriman. Bakhil, pelit atau kedekut merupakan bawaan yang semestinya dikontrol. Orang yang mampu menguasai nafsu pelitnya atau kebakhilannya adalah orang yang berhasil. Demikian dinyatakan dalam sebuah ayat al-Qur'an:
{وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُون} [59/الحشر: 9]
Kenikmatan dan rejeki yang kita peroleh sebenarnya tidak semata-mata dari usaha kita sebagaimana kemalangan yang menimpa orang yang malang bukanlah semata-mata karena kemalasan dan kekurangan usaha mereka. Banyak hal yang membuat untung sebagaimana banyak yang membuat buntung. Para pengungsi yang mencari keselamatan karena di rumah sendiri terjadi kerusuhan atau perang, orang-orang yang menjadi korban banjir, gunung meletus dan sebagainya; mereka mendapatkan kemalangan dari banyak faktor dari luar diri mereka. Demikian pula keberhasilan kita tidak jarang disebabkan oleh banyak hal yang tidak kita usahakan sendiri. Yang kita usahakan sering kali seperti memberi peluang bagi datangnya banyak keuntungan yang kita peroleh.
Karena itu, kita perlu bersolidaritas dengan orang-orang yang memerlukan bantuan dari harta kita yang sebagiannya kita peroleh tidak semata-mata dengan usaha kita dan di dalamnya terdapat hak orang lain.

Kaum Muslimin yang diberkati Allah.
Sedekah atau belanja di jalan Allah yang memberikan keuntungan sedemikian itu adalah yang dilakukan dengan keikhlasan; bukan karena terpaksa, bukan karena ingin dikenal sebagai dermawan, bukan merasa diri orang baik. Di dalam al-Qur'an disebutkan bahwa sedekah atau belanja di jalan Allah itu tidak boleh diikuti dengan kata-kata yang menyakiti penerimanya. Kata-kata seperti itu akan menghapus pahala. Jadi, keuntungan 700X lipat itu merupakan keuntungan tertinggi, balasan yang dapat berkurang sesuai dengan kadar keikhlasan pelakunya.
Kata-kata yang sopan dan pemaafan lebih baik daripada sedekah yang diikuti dengan pencemoohan atau kata-kata yang menyakitkan. Memang tidak mudah untuk berbagi dengan milik yang kita sukai seperti harta dan kedudukan.
قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ (263). يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لَا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ} [البقرة: 261 - 264].
Perkataan yang baik dan pemberian maaf adalah lebih baik daripada sedekah yang diikuti hal yang menyakitkan penerimanya, sedangkan Allah maha kaya lagi maha bijaksana. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian rusak sedekah kalian dengan kata-kata kasar dan tindakan yang menyakitkan sebagaimana rusaknya pahala orang yang membelanjakan hartanya untuk pamer kepada orang lain dan tidak beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Perumpamaannya seperti batu licin yang tertutup tanah lalu tertimpa air hujan, maka jadilah ia bersih sama sekali. Orang-orang seperti itu tidak memperoleh apa pun dari perbuatan sedekahnya, sedangkan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang menutup hati.
Dengan demikian sedekah mesti dijaga dengan keikhlasan dan keimanan kepada Allah dan hari akhir, bukan untuk tujuan-tujuan lain yang membuat pahalanya terhapus.

Jamaah kaum Muslimin yang diberkati Allah,
Ada satu hal lagi yang perlu mendapat perhatian kita dalam hal bersedekah, yakni siapa yang menerimanya dan untuk apa sedekah itu dipergunakan. Kita tidak boleh hanya memberi lalu selesai, melainkan harus memastikan bahwa pemberian itu tidak dipergunakan untuk melakukan keburukan atau hal yang membahayakan kehidupan. Nabi Muhammad mengingatkan bahwa orang yang menolong terjadinya maksiat, walaupun hanya dengan separo kata, sama dengan ikut bermaksiat. Karena itu kita harus tahu dengan pasti siapa penerima sedekah kita. Sedekah yang berada di tangan penjahat sangat besar kemungkinannya untuk dipakai dalam melakukan kejahatan; sedekah di tangan orang yang baik sangat besar kemungkinannya untuk dipakai dalam kebaikan. Itu pun, masih memerlukan pengawasan atau pertanggungjawaban yang transparan. Keikhlasan tidak semestinya menghalangi kita dari kehati-hatian sehingga niat baik dan tindakan baik kita tidak justru berarti kemaksiatan.

Kaum Muslimin yang berbahagia
Banyak jalan untuk berbuat kebaikan yang pahalanya seperti pahala sedekah di jalan Allah. Jangankan menolong manusia, menolong anjing pun termasuk sedekah yang mendapat pahala dari Allah. Disebutkan dalam sebuah hadis:
عن أبي هريرةَ – رضي الله عنه – أنَّ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: «بَينَما رَجُلٌ يَمشي بِطَريقٍ اشْتَدَّ عَلَيهِ العَطَشُ، فَوَجَدَ بِئرًا فَنَزَلَ فِيهَا فَشربَ، ثُمَّ خَرَجَ فإذَا كَلْبٌ يَلْهَثُ يأكُلُ الثَّرَى مِنَ العَطَشِ. فَقَالَ الرَّجُلُ: لَقَدْ بَلَغَ هَذَا الكَلْبُ مِنَ العَطَشِ مِثلُ الَّذِي كَانَ قَدْ بَلَغَ مِنِّي. فَنَزَلَ البِئْرَ، فَمَلأَ خُفَّهُ مَاءً ثُمَّ أمْسَكَهُ بفيهِ حَتَّى رَقِيَ. فَسَقَى الكَلْبَ، فَشَكَرَ اللهَ لَهُ، فَغَفَرَ لَهُ» قالوا: يَا رَسُول اللهِ، إنَّ لَنَا في البَهَائِمِ أَجْرًا؟ فقَالَ: «في كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أجْرٌ».
Kalau tidak dapat memberikan kebaikan, setidak-tidaknya orang dapat menahan diri dari melakukan tindakan yang merugikan orang lain. Dalam sebuah hadis diceritakan bahwa seorang sahabat Nabi, Abu Dzarr bertanya: Apa amal yang paling baik? Iman kepada Allah dan berjuang di jalan-Nya, jawab Rasulullah. Budak yang paling baik? tanyanya lagi. Yang paling indah bagi tuannya dan yang paling tinggi harganya.
عن أبي ذر جُنْدبِ بنِ جُنَادَةَ - رضي الله عنه - قَالَ: قُلْتُ: يَا رسولَ الله، أيُّ الأعمالِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: «الإِيمَانُ باللهِ وَالجِهادُ فِي سَبيلِهِ». قُلْتُ: أيُّ الرِّقَابِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: «أنْفَسُهَا عِنْدَ أَهلِهَا وَأَكثَرهَا ثَمَنًا». قُلْتُ: فإنْ لَمْ أفْعَلْ؟ قَالَ: «تُعِينُ صَانِعًا أَوْ تَصْنَعُ لأَخْرَقَ». قُلْتُ: يَا رَسُول الله، أرأيْتَ إنْ ضَعُفْتُ عَنْ بَعْضِ العَمَلِ؟ قَالَ: «تَكُفُّ شَرَّكَ عَنِ النَّاسِ؛ فإنَّهَا صَدَقَةٌ مِنْكَ عَلَى نَفْسِكَ». مُتَّفَقٌ عليه.
Kalau aku tak dapat berbuat sendiri? tanya Abu Dzarr. Jawab Rasulullah: Kau bantulah orang yang membuat produk atau kau buatkan produk bagi orang yang tak bisa membuat sendiri. Kalau aku lemah dalam membuat produk? Tahanlah dirimu dari merugikan orang lain. Itu adalah sedekahmu untuk dirimu sendiri.
Juga dikatakan dalam sebuah hadis lain:
قَالَ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم: «وَاللَّهِ لاَ يُؤْمِنُ، وَاللَّهِ لاَ يُؤْمِنُ، وَاللَّهِ لاَ يُؤْمِنُ» قِيلَ: وَمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «الَّذِي لاَ يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَايِقَهُ» البخاري.
Demi Allah, tidaklah beriman 3X, Rasulullah bersabda suatu kali. Para sahabat bertanya, Siapa itu? Orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya.

Jadi, perbuatan baik adalah kelanjutan logis dari iman. Iman semestinya mewujud dalam perbuatan baik dan pencegahan diri dari perbuatan tidak baik.

Oleh: Prof. Muhammad Machasin

Monday, February 15, 2016

SEMINAR "Kebebasan Beragama, Gerakan Takfir dan Deradikalisasi sebagai Tantangan Kerukunan Umat Beragama"

ICIP bekerjasama dengan Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) & Kedutaan Kanada

Mengundang rekan-rekan (Undangan terbuka untuk umum) dalam acara :

SEMINAR
"Kebebasan Beragama, Gerakan Takfir dan Deradikalisasi sebagai Tantangan Kerukunan Umat Beragama"

Senin, 22 Februari 2016
09.00 s/d 15.00
Aula PBNU lantai 8 (Jl. Kramat Raya No 164 Jakarta Pusat)

09.30-10.00
Sambutan pembukaan:

1.    Dr. Phil. Syafiq Hasyim (Direktur International Center for Islam and Pluralism)

2.    Mrs. Helene Viau (Political Counselor, Kedubes Canada di Indonesia)

Keynote speaker: Prof. Dr. Said Aqil Siradj (Ketua Umum PBNU)

Sesi I
10.00-12.00

Kebebasan Agama dalam Ambiguitas Peran Negara: Refleksi atas Kasus-Kasus Penyesatan

1.    KH. Masdar F. Mas’udi (Rais Syuriah PBNU)

2.    Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed (Sekretaris Umum PP. Muhammadiyah)

3.    Prof. Dr. Abdurrahman Mas’ud (Kepala Litbang Kemetrian Agama RI) 

Moderator: Andy Budiman

12.00-13.00
Makan Siang dan Beribadah

Sesi II
13.00 – 15.00

Melindungi Kebebasan Beragama dari Gerakan Takfir dan Radikalisme

1.    Ihsan Ali Fauzi (Direktur PUSAD Paramadina)

2.    Jaleswari Pramodhawardani (Staf Khusus Presiden Jokowi)

3.    Ahmad Djunaidi (Ketua Sejuk)

Moderator: Saidiman Ahmad

15.00-15.30 
Penutupan

*Penyelenggara menyediakan Makan siang Dan Cofee Break

Konfirmasi Kehadiran 081382337063 (Fahmi)

Thursday, February 11, 2016

Adakah Jilbab dan Hijab Syar'i?

Kenapa sejak dulu di Indonesia, para ulama dan kiai besar tidak pernah "meributkan" soal jilbab atau hijab atau "busana syar'i" dlsb? Karena mereka menganggap masalah ini bukan masalah fundamental dan substantial dalam Islam. Mereka berargumen sepanjang busana yang dikenakan itu menutup aurat dan sesuai dengan ukuran kepantasan dan norma yang berlaku di masyarakat setempat atau katakanlah sesuai dengan "tradisi dan budaya Nusantara" maka itu sudah sangat Islami dan sangat Qur'ani.

Karena itu dulu para putri kiai-kiai besar cukup mengenakan pakaian jarik dan kerudung. Bahkan sebelum "teknologi kerudung" diperkenalkan ke masyarakat, mereka cukup memakai kemben. Setelah "teknologi" celana panjang & aneka jenis baju diperkenalkan, gaya berbusana para putri kiai pun mengikuti dan menyesuaikan perkembangan zaman. Jadi, kaum Muslimah di Indonesia tidak perlu repot2 mencontoh gaya berbusana masyarakat Arab dengan abaya gelombor. Busana "kebaya Jawa", misalnya, itu sama derajat "islaminya" dengan model "abaya Arab".

Hanya belakangan saja orang-orang pada ramai hiruk-pikuk membahas soal "hijab syar'i" lah, "jilbab islami" lah. Saya amati hal ini terjadi setelah munculnya berbagai ustad karbitan yang "unyu-unyu"--para ustad yang hanya bermodal cekak satu-dua dalil dari Al-Qur'an atau Hadis tapi miskin wawasan kesejarahan dan perangkat ilmu-ilmu sosial. Para ustad yang hanya bisa menghafal sejumlah ayat, Hadis, dan "aqwal" (perkataan para ulama klasik) tetapi tidak menguasai metodologi keilmuan. Akibatnya, mereka hanya bisa mengartikan ayat, hadis, dan "aqwal" tentang "hijab" tadi secara leterlek dan tekstual sehingga kehilangan konteks, sejarah, spirit atau ruh tentang tradisi hijab tadi dalam sejarah keislaman, keagamaan, dan masyarakat Timur Tengah pada umumnya--baik masyarakat agama maupun masyarakat non-agama.

Teks apapun kalau dibaca secara "leterlek" menjadi kaku: harus begini, tidak boleh begitu. Padahal kan justru lebih enak & mengasyikkan kalau sesuatu itu bersifat lentur: kadang kaku, kadang lemas; kadang keras, kadang lembut sesuai dengan situasi dan kondisi he he

Prof. Sumanto Al-Qurtuby

Wednesday, February 10, 2016

Bedanya Aswaja dan Wahabi

Eksponen Salafy : Setahu saya kaum yang kamu bilang salafi /wahabi

Juga belajar dan menggunakan pendapat para imam mazhab,bedanya mereka tidak berpatokan kepada satu mazhab,tapi membandingkan mana pendapat yang paling kuat sumber hadisnya

Eksponen Aswaja : kemudian, memvonis pendapat yang tidak sesuai dengan ideologinya sebagai pendapat sesat dan bid'ah...di sinilah letak perbedaan mereka dengan ulama aswaja.

Ulama aswaja menghargai perbedaan pendapat, walaupun mengikuti satu pendapat namun masih menghormati pihak lain yang mengikuti pendapat lain.

Sedangkan kaum salafi/wahabi mendakwakan bahwa pendapat mereka yang paling kuat sumbernya, kemudian memvonis pendapat lain sebagai bid'ah dan sesat...dengan mereka mengeluarkan satu pendapat maka seolah2 khilafiyah para ulama terdahulu hilang dan menjadi ijmak....

Beasiswa Guru SMP/SMA/Sederajat 2016


ILEP yaitu beasiswa yg disediakan Biro Pendidikan & Kebudayaan Departemen Luar Negara AS lewat International Research dan Exchanges Board (IREX), organisasi non profit yg berbasis di Washington, DC.

tidak cuma pelatihan intensif & perkuliahan sewaktu satu semester kepada acara akademik di kampus AS. Penerima beasiswa IELP serta bakal magang di sekolah menengah di AS & berinteraksi dengan cara aktif dgn guru & peserta didik.

Beasiswa yg diperoleh di antaranya mencakup pembekalan sebelum keberangkatan yg dilaksanakan di Indonesia, ticket pesawat PP Indonesia-Amerika Serikat, orientasi kehadiran di Washington, DC, budget acara akademik, ruang tinggal, asuransi kesehatan & kecelakaan, juga duit saku harian buat makan & ongkossewaktu menjalani perkuliahan di kampus.

diluar itu diberikan juga notebook, buku/tunjangan pengembangan profesional, mengikuti seminar penutupan di Washington, DC, tunjangan bagasi, & peluangajukan pertolongan hibah kolaboratif dgn mitra yg ada di AS.

Persyaratan :
1. Guru SMP/SMA/sederajat yg mengajar bagian bahasa Inggris, ilmu sosial (IPS), pendidikan kewarganegaraan (PKn), matematika, juga sains (IPA).
2. Mempunyai pengalaman mengajar 5 th atau lebih
3. Warganegara Indonesia
4. Sanggup posting & berbahasa Inggris dibuktikan bersama score minimum ITP TOEFL 500, IBT TOEFL 60/61, atau IELTS yg setara

Pendaftaran :
Pengajuan beasiswa guru SMP/SMA/sederajat 2016 dari IREX akan dilakukan dgn dua kiat. Memilih salah satu.

Kiat mula-mula, Kirimkan dokumen penerapan berikut lewat kantor AMINEF :
1. Formulir penerapan (download)
2. Satu halaman Statement of Purpose yg ditulis dgn terang
3. Curriculum Vitae
4. Isi dua formulir rekomendasi pula formulir dukungan institusi
5. Copy card identitas (KTP atau paspor)
6. Copy score TOEFL/IELTS

Kirimkan dokumen penerapan komplit tersebut ke alamat :

AMINEF OFFICE
Intiland Tower, 11th Floor
Jl. Jend. Sudirman 32,
Jakarta 10220

Trik ke-2, ajukan penerapan online :
Seandainya pilih mendaftar secara ke-2, pelamar ajukan penerapan beasiswa ILEP dengan cara online di web IREX : http : //oas.irex.org/ilep

Buatlah akun apalagi dulu di web tersebut, setelah itu mengisi formulir juga upload dokumen penerapan(format Pdf) yg diminta berikut :
1. Dua surat rekomendasi & dukungan institusi (formulir mampu didownload terhadap penerapan online)
2. Identitas diri (KTP atau paspor)
3. Ijazah & transkrip
4. Score TOEFL/IELTS
5. Curriculum vitae

Pengajuan beasiswa tersebut paling lambat 15 April 2016.

Utk kabar lebih lanjut berkaitan beasiswa ILEP 2016 mampu diungkapkan lewat email : infofulbright_ind@aminef.or.id atau teliti lewat situs Aminef (www.aminef.or.id).

Tuesday, February 9, 2016

Rasulullah saw Sebagai Wasilah

★★ Rasulullah Saw Sebagai Wasilah ★★

Kisah ini berdasarkan riwayat hadits yang sangat panjang. Ringkasnya:
Ada seseorang bernama Sawad bin Qarib,
Selama beberapa malam ia bermimpi masuk agama Islam, yang pada akhirnya ia datang ke Rasulullah Saw dan melantunkan beberapa syair yang diantaranya adalah sebagai berikut:

فَأَشْهَدُ أَنَّ اللهَ لَا رَبَّ غَيْرَهُ   ※  وَأَنَّكَ مَأْمُوْنٌ عَلَى كُلِّ غَالِبٍ
وَأَنَّكَ أَدْنَى الْمُرْسَلِيْنَ وَسِيْلَةً  ※ إِلَى اللهِ يَا ابْنَ الْأَكْرَمِيْنَ الْأَطَائِبِ
وَكُنْ لِيْ شَفِيْعًا يَوْمَ لَا ذُوْ شَفَاعَة ٍ ※ سِوَاكَ بِمُغْنٍ عَنْ سَوَادِ بْنِ قَارِبٍ

“Maka, aku bersaksi bahwa Allah, tiada tuhan selain Ia.
Dan sesungguhnya engkau orang terpercaya atas segala kemenangan.

Dan seseungguhnya engkau (Muhammad) adalah wasilah yang terdekat kepada Allah.
Wahai putra orang-orang mulia nan baik.

Jadilah engkau sebagai penolong bagiku saat tiada yang dapat memiliki pertolongan.
Selain engkau tiada dibutuhkan oleh Sawad bin Qarib”.

فَفَرِحَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَأَصْحَابُهُ بِإِسْلَامِيْ فَرْحًا شَدِيْدًا حَتَّى رُئِيَ فِي وُجُوْهِهِمْ، قَالَ: فَوَثَبَ عُمَرُ فَالْتَزَمَهُ وَقَالَ قَدْ كُنْتُ أُحِبُّ أَنْ أَسْمَعَ هَذَا مِنْكَ

“Sawad bin Qarib berkata:
“Rasulullah dan para sahabat sangat senang dengan keislaman saya.
Kemudian Umar melompat dan merangkulnya.
Umar berkata:
“Sungguh aku senang mendengar ini darimu”.

Kisah di atas dikutip dalam :
● Tafsir Ibnu Katsir (7/299)/(4/168 Isa al-Halabi Mesir),
● Al-Mustadrak (15/227),
● Al-Kabir Thabrani/ Ahadits Thiwal (1/75),
● Dalail Nubuwah li al-Baihaqi (1/132),
● Dalail Nubuwah Abu Nuaim (1/74),
● Funun Ajaib Abi Said Naqqasy (1/84),
● Sirah Nabawiyah Ibnu Katsir (1/346),
● Mu’jam Abi Ya’la Al Mushili (1/348),
● Uyunul Atsar Ibn Sayydinnas (1/102),
● Subulul Huda War Rasyad Shalihi Syami (2/209),
● Al Wafi bil Wafiyat Abu Fayyadl (5/175),
● Al Isti’ab fi Ma’rifat Ashhab (1/104),
● Tafsir Adlwa’ al Bayan Al Hafidz Zuhair bin Harb Nasa’i/Ta’liq Al Albani (3/445)
● Tafsir Nukat Wa Uyun (4/336).

Rasulullah Saw dan para sahabat tidak mengingkari bahwa Rasulullah Saw adalah wasilah yang paling utama.
Kalau hal ini salah maka sudah pasti Rasulullah Saw dan para sahabat akan mengatakan salah.
Sehingga hadits ini disebut taqrir (ketetapan) karena disetujui dan diakui oleh Rasulullah sendiri.

Dan seandainya status wasilah Rasulullah Saw hanya berlaku ketika beliau masih hidup,
Maka sudah pasti Rasulullah akan berkata semisal:
“Ingat..!!, aku hanya sebagai wasilah ketika aku masih hidup saja..!!!
Atau: Jika bertawassul tidak boleh dengan dzat saya, tapi dengan doa saya..!!!”

Tetapi nyatanya Rasulullah Saw mengakuinya dan tidak memberi batasan.
Karenanya dalam kaidah Ushul fiqh dikatakan:

اِنَّ الْبَيَانَ لاَ يُؤَخَّرُ عَنْ وَقْتِ الْحَاجَةِ

“Penjelasan tentang hukum tidak boleh ditunda di saat penjelasan itu dibutuhkan”.
(Al-Talkhish fi Ushul al-Fiqh, II/208).

■ Lalu dari mana pihak yang anti tawassul
(Wahabi Talafi) melarang Rasulullah Saw dijadikan sebagai wasilah setelah beliau wafat....????
Padahal Beliau Saw sendiri tidak pernah menyatakan demikian...???

——————————————————————————————

Hasan Baroom

Monday, February 8, 2016

Benarkah Al-Qur'an itu kitab suci yang paling mengajarkan kekerasan?

Pertanyaan semacam ini muncul, khususnya di dunia barat, ketika sejumlah  aksi terorisme atas nama Islam bertebaran dimana-mana. Mereka tentu berasumsi bahwa kitab suci umat Islam lah sumber dari aksi teror tersebut. Benarkah?

Tom Anderson penasaran. Dia menggunakan software OdinText yang menscan 100% isi al-Qur'an, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Dia kemudian memasukkan sejumlah kata dan frase yang mengekspresikan emosi seperti marah, takut, bahagia, destruksi dan pembunuhan. Melalui software tersebut Tom Anderson meraih hasil yg mengejutkan hanya dalam dua menit.

Text analytics yang dia lakukan hasilnya sebagai berikut:

Pembunuhan dan penghancuran ternyata lebih banyak diungkap oleh Perjanjian Lama (5.3%) ketimbang Perjanjian Baru (2.8%). Sebagai perbandingan, ayat-ayat soal.pembunuhan dan penghancuran di dalam al-Qur'an cuma berisi 2.1% saja --lebih rendah dari kitab suci pegangan Yahudi dan Nasrani. Jelas tidak benar anggapan bahwa al-Qur'an adalah kitab suci yang paling mengajarkan kekerasan.

Temuan mengejutkan lainnya adalah term "pengampunan" di dalam al-Qur'an sebanyak 6.3%. Ini lebih banyak ketimbang Perjanian Baru (2.9%) dan Perjanjian Lama (0.7%). Tuhan dalam al-Qur'an lebih banyak mengampuni ketimbang menghukum.

Tentu saja bertumpu pada analisa teks baru setengah cerita. Dari teks muncul tafsir. Bahkan yang sering dianggap teks ternyata hanya terjemahan Qur'an yang tentu saja tidak sama dengan kesucian teks al-Qur'an --padahal sebagian pihak sudah berani menyalahkan pemahaman dan praktek keislaman saudaranya hanya dengan bersandar pada teks terjemahan versi yang dia pakai.

Sejatinya, analisa teks harus ditambahi dengan analisa konteks. Dengan kata lain hasil eksperimen Tom Anderson di atas harus diteruskan dengan discourse analysis untuk menjawab pertanyaan lanjutan: kalau al-Qur'an lebih banyak bertutur soal kasih sayang ketimbang kekerasan, kenapa prilaku sebagian umat malah sebaliknya: semakin kuat beragama maka menjadi semakin serius, sensi, gampang tersinggung, pemarah, tegang, tegas dan cenderung reaktif? #sodorincerminkemukamasing2

Kemana perginya teks al-Qur'an yang dimulai "dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang" dàlam prilaku kita sehari-haru. Kita menyapa Allah dengan al-Rahman dan al-Rahim tapi sudahkah kita tebar kasih sayang ke penjuru dunia? Mudah untuk diucapkan namun sulit untuk diterapkan, bukan? #introspeksimasing2yuk

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Monash Law School

http://odintext.com/blog/text-analysis-answers-is-the-quran-really-more-violent-than-the-bible/

Sunday, February 7, 2016

Program Dai ke Daerah-daerah

Program seperti ini,
Salah satunya yang saya impikan dari kepengurusan Ikbal Tabah.

Pengiriman dai-dai dan guru ngaji ke berbagai daerah yang membutuhkan.
Bila perlu, hingga ke luar negeri.

Saya kira, PP TABAH amat mumpuni untuk menelorkan kader2 santri yang siap berdakwah ke daerah sana.
Saya miris, membaca betapa para misionaris itu ternyata jauh lebih hebat dalam urusan dakwahnya dibanding kita, umat Islam.

Padahal, apa yg mereka dakwahkan belum tentu benar.

Monggo
Barangkali ada yang usulan dan masukan konsep program ini.

Friday, February 5, 2016

Kedermawanan Nabi Muhammad saw

SIFAT DERMAWAN SANG NABI

Seorang lelaki datang menemui cucu Nabi SAW, Sayyidina Hasan RA dan lelaki itu berkata,
"Kakekku sangatlah dermawan, jika ada orang yang datang meminta sumbangan meskipun bolak balik sampai 50 kali, akan terus diladeni dan tetap diberikan, tak ada penolakan dan tak ada bosannya."

Sayyidina Hasan RA menjawab sambil tersenyum,
"Kakekku Rasulullah SAW juga sangat dermawan, jika ada yang datang meminta sumbangan, beliau akan memberikannya dengan pemberian yang amat banyak, sehingga orang yang meminta itu tidak perlu datang lagi di lain waktu untuk meminta."

[ Al Habib Umar bin Hafidz ]

Subhanallah  . . .

“Ya Allah, limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan Nabi Besar Muhammad, sang cahaya-Mu yang selalu bersinar dan pemberian-Mu yang tak kunjung putus, dan kumpulkanlah aku dengan Rasulullah di setiap zaman, serta shalawat untuk keluarganya dan sahabatnya, wahai Sang Cahaya.”
آمين...

Thursday, February 4, 2016

Pernahkah Ibn Abdul Wahab Ziarah ke Makam Orangtuanya?

mungkin para pengikut salafi wahabi akan berkilah dengan gaya bahasa "jangan fitnah akhi .... wahabi tidak melarang ziarah kubur justeru itu sunnah , yang kami larang itu mengagungkan dan beribadah di kuburan "

ooohhh begitu yach ziarah kubur tidak dilarang .... oke kalau begitu jika aku hadapkan dengan pertanyaan dibawah ini apa pengikut salafi wahabi bisa jawab , pertanyaanku adalah :

"berikan aku satu kisah atau riwayat dari kitab karangan dan tulisan serta cetakan para pengikut salafi wahabi sendiri yang menyatakan bahwa muhammad bin abdulwahab pernah berziarah kubur ke makam orangtuanya sendiri , silakan tunjukkan buktinya bersumber dari kitab apa? lalu kalaulah salafiwahabi berkilah bahwa ziarah kubur tidak dilarang tapi yang dilarang adalah  mengagungkan kuburan maka tolong jawab ini, sebutkan satu nama syeikh atau ustad salafiwahabi yang pernah berziarah kubur ke kuburannya muhammad bin abdulwahab, tunjukkan bukti fotonya bahwa salahsatu syeikh atau ustad salafiwahabi pernah berziarah kesana, bisakah menjawab ini dengan bukti?"

perlu diketahui , dimata pengikut muhammad bin abdulwahab , sosoknya adalah manusia agung, sangking agungnya sampai sampai kuburannya dirahasiakan dan tidak ada yang tahu ....

jadi yang terbukti mengagung agungkan kuburan adalah pengikut salafi wahabi sebab jika muhammad bin abdulwahab bukanlah manusia agung di mata pengikut salafi wahabi , lalu kenapa tak satupun diantara syeikh maupun ustad salafiwahabi yang tahu dimana kuburannya dan menunjukkan foto/gambar kuburannya?

jangan mengagungkan kuburan, kalaulah muhammad bin abdulwahab manusia biasa dan bukan manusia agung tentulah dia dikubur dipekuburan biasa hingga setiap orangpun tahu dimana kuburannya dan berziarah kesana , tapi karena muhammad bin abdulwahab dimata pengikut salafi wahabi adalah manusia agung maka sangking agungnya kuburannya pun disakralkan hingga tak ada seseorangpun dari pengikutnya yang tahu ...

sesungguhnya yang mengagung-agungkan kuburan adalah mereka yang menyembunyikan kuburan seseorang yang diagungkan hingga mereka mengkultuskan si mayit dengan keagungannya semasa hidup seolah olah sosok yang tidak ada kuburnya ini adalah makhluk ABADI yang berarti dia pernah hidup tapi tak pernah mati sebab tidak ada kuburannya yang menjelaskan bukti kalau dia pernah mati dan dikubur ...

nb : untuk para pengikut salafi wahabi,
bukankah kalian sering ikut dauroh dan kajian yang diisi ustad salafi wahabi, kenapa kalian tidak bertanya sebagaimana pertanyaanku? apa kalian diharamkan bertanya hal hal seperti itu? ALLAHU menciptakan kalian itu bebas dan merdeka mengapa kalian mau diikat oleh kekerdilan pemahaman para ustad salafi wahabi hingga bertanya seperti pertanyaanku diatas sampai sampai tidak boleh sama sekali ? ... pikirkan kembali pemahaman kalian selama ini deh .... masih ada waktu untuk kembali ke ahlussunnah wal jama'ah , pintu akan selalu terbuka bagi siapapun yang ingin mencari kebenaran ...

Wednesday, February 3, 2016

Siapa Gurunya Syekh Ibn Abdul Wahab?

masih soal pertanyaan,

disebutkan dalam setiap link blog, website dan kajian para ustad salafi wahabi baik rodja tv atau radio rodja , bahwa syeikh muhammad bin abdulwahab berguru pada muhammad al majmu'i di basra irak, nah pertanyaan saya "sebutkan riwayat biografi singkat syeikh muhammad al majmu'i , siapakah dia ?dari anak keturunan siapa?, dan siapakah gurunya ? lalu dimanakah dia dikuburkan ? "

bisa jawab pertanyaan itu baru kalian boleh qishos kepala ku karena menuduh guru muhammad bin abdulwahab yang bernama syeikh muhammad al majmu'i adalah hempher , tapi kalau tidak bisa lebih baik kalian diam dan renungi kembali , sebagai pengikut kok mau kalian mengikuti pemahaman seseorang yang kuburannya tidak jelas ?

JF N.

Wahabi Menurut Para Ulama

☆☆ WAHABI MENURUT ULAMA ☆☆

            Gerakan Wahabi Salafi--yang dikenal dengan ideologi takfir (mengkafirkan, mem-bid'ah-kan, men-syirik-kan sesama muslim), Adalah gerakan yang mengklaim dirinya sebagai gerakan pemurnian akidah (tauhid) dan mengikuti langkah ulama terdahulu atau ulama Salaf.
Karena itu gerakan ini disebut dengan berbagai nama seperti :
~ Wahhabi : Merujuk pada nama pendirinya Muhammad bin Abdul Wahhab,
~ Ahli Tauhid.
~ Salafi
~ Wahabi Salafi.
~ Ahli Sunnah Salafi, adanya di indonesia.

Di dunia Arab, mereka lebih sering disebut dengan istilah
~ Harakatul Wahhabiyah As-Saudiyah
(حركة الوهابية السعودية)

Atau Gerakan Wahabi Arab Saudi.
Karena memang didirikan dan berpusat di Arab Saudi.

● Banyak ulama yang memberi nilai Negatif pada gerakan ini.
Tidak mengherankan, karena gerakan ini tidak memiliki sikap kompromi dan tidak pernah menilai positif kecuali kepada dirinya sendiri.
Dan banyak label kurang sedap dialamatkan pada gerakan yang pendanaan penyebarannya didukung penuh oleh kerajaan Arab Saudi ini.
Sebutan itu antara lain seperti :
~ Gerakan Militan.
~ Gerakan ekstrim,
~ Ideologi Teroris,
~ Neo-Khawarij
~ Gerakan sesat.
~ Dll.

Berikut beberapa pendapat ulama Sunni terhadap Wahabi Talafi:

■ Dr. Ali Jumah, mufti Mesir mengatakan :

. لكننا لم نر من السلفيين الحاليين سوى التشدد والإرهاب والتعصب والدم

"Yang saya lihat dari (Wahabi) Salafi hanyalah (gerakan) ekstrim, teror, fanatik dan (haus) darah."
◎ Lihat detailnya:
www.anbacom.com/news.php?action=show&id=8028.

■ Dr. Ahmad Tayyib, Syekh al-Azhar mengatakan:
Bahwa Wahabi tidak pantas menyebut dirinya salafi karena mereka tidak berpijak pada manhaj salaf.
◎ Lihat wawancaranya di:
http://www.youtube.com/watch?v=N_vrTRXujBM

■ Dr. Yusuf Qardawi, intelektual Islam produktif dan ahli fiqh terkenal asal Mesir, mengatakan:
Bahwa Wahabi adalah gerakan fanatik buta yang menganggap dirinya paling benar tanpa salah dan menganggap yang lain selalu salah tanpa ada kebenaran sedikitpun.

هو التعصب له ضد الأفكار الأخري وهو قائم علي المذهب الحنبلي، ولكنهم لا يرون ولا يؤمنون إلا برأيهم فهم يعتبرون أن رأيهم صواب لا يحتمل الخطأ، ورأي غيرهم خطأ لا يحتمل الصواب

◎ Lihat detail:
www.libyan-national-movement.org/article.php?artid=2630

■ Gerakan Wahabi di Ghaza, menurut Qardawi, lebih suka memerangi dam membunuh sesama muslim daripada membunuh Yahudi.
◎ Lihat wawancaranya dengan tv Al Jazeera di: www.youtube.com/watch?v=y2NcYwEqX7M

■ Syekh Muhammad Al-Ghazali, ulama berpengaruh Mesir, termasuk salah satu pengeritik paling keras gerakan Wahabi.
Dalam kitabnya yang berjudul:
"Al Wahhabiyah Tusyawwihul Islam wa Tuakhirul Muslim" (Wahabi menistakan Islam dan membuat muslim terbelakang)
Al-Ghazali menuangkan sejumlah kritikan pada Wahabi baik yang ditulis oleh dirinya sendiri maupun yang dikutip dari ulama dan intelektual Mesir yang lain.

= Al-Ghazali antara lain menyatakan:
"Agama yang diserukan oleh sekelompok suku Baduwi ini (maksudnya Muhammad bin Abdul Wahab)
Adalah agama lain yang berbeda dengan agama Islam yang kita ketahui dan kita muliakan.

■ Menurut Dr. Ali Syuaibi menyatakan bahwa Wahabi tidak termasuk golongan Ahlussunnah Waljamaah walaupun mereka mengklaim sebagai pengikut madzhab fiqih Hanbali (Hanabilah).
Islamtimes.com melaporkan pernyataan Dr. Ali:

يوضح الدكتور علي الشعيبي أن أغلب المسليمن المعاصرين لا يعرفون أن الوهابية ليست من أهل السنة والجماعة ولو أنهم قالوا أنهم حنابلة كما أنهم لا يعلمون أن السلفية ليسوا من أهل السنة والجماعة
Artinya:
            Dr. Ali As-Syuaibi menjelaskan bahwa kebanyakan umat Islam dewasa ini tidak tahu bahwa kaum Wahabi bukanlan termasuk Ahlussunnah wal Jamaah walaupun mereka mengaku sebagai pengikut madzhab Hanbali sebagaimana umat Islam tidak tahu bahwa kaum Salafi bukanlah Ahlussunnah Waljamaah.
◎ Selengkapnya lihat:
http://goo.gl/wtKTNd.

※ CIRI KHAS ULAMA-ULAMA WAHABI

1)      Kata kunci dan tema sentral dari fatwa para ulama Wahabi Salafi berkisar pada

1.      bid'ah
2.      syirik
3.      kufur
4.      syiah rafidlah kepada kelompok Islam atau muslim lain yang tidak searah dengan mereka.
Kita akan sering menemukan salah satu dari 4 kata itu dalam setiap fatwa mereka.

2)      Dalam memberi fatwa, tokoh utama ulama Wahabi Salafi akan langsung berijtihad sendiri dengan mengutip ayat dan hadits yang mendukung.
Atau, kalau mengutip fatwa ulama, mereka akan cenderung mengutip fatwa dari Ibnu Taimiyah atau Ibnul Qayyim. Selanjutnya, mereka akan membuat fatwa sendiri yang kemudian akan menjadi dalil para pengikut Wahabi.
Dengan kata lain, pengikut Wahabi hanya mau bertaklid buta pada ulama Wahabi.

3)      Tokoh atau ulama Wahabi Salafi level kedua ke bawah akan cenderung menjadikan fatwa tokoh Salafi level pertama sebagai salah satu rujukan utama.
Atau kalau tidak, akan memberi fatwa yang segaris dengan ulama Wahabi level pertama.

4)      Kalangan ulama atau tokoh Wahabi Salafi tidak suka atau sangat jarang mengutip pendapat ulama salaf seperti ulama madzhab yang empat dan yang lain kecuali madzhab Hanbali yang merupakan tempat rujukan asal mereka dalam bidang fiqih walaupun tidak mereka akui secara jelas.
Hanya pendapat Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim yang sering dikutip untuk pendapat ulama di atasnya Muhammad ibnu Abdil Wahhab terutama dalam bidang yang menyangkut aqidah.

5)      Di mata ulama Wahabi, perayaan keislaman yang boleh dilakukan hanyalah hari raya idul fitri dan idul adha. Sedangkan perayaan yang lain seperti maulid Nabi Muhammad, peringatan Isra' Mi'raj dan perayaan tahun baru Islam dianggap haram dan bid'ah.

6)      Gerakan-gerakan atau organisasi Islam yang di luar Wahabi Salafi atau yang tidak segaris dengan manhaj (aturan standar ideologi) Wahabi akan mendapat label syirik, kufur atau bid'ah.

7)      Pengikut/aktivis Wahabi Salafi tidak mau taklid (mengikuti pendapat) ulama salaf (klasik) dan khalaf (kontemporer),
Tapi dengan senang hati taklid kepada pendapat dan fatwa ulama-ulama Wahabi Salafiatau fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts wal Ifta'
(اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء والدعوة والإرشاد)
Dan lembaga serta ulama-ulama yang menjadi anggota Hai'ah Kibaril Ulama
(هيئة كبار العلماء)
Yang nama lengkapnya adalah Ar-Riasah al-Ammah lil Buhuts wal Ifta'
(الرئاسة العامة للبحوث العلمية والإفتاء).

8)      Pengikut/aktivis sangat menghormati ulama-ulama mereka dan selalu menyebut para ulama Wahabi dengan awalan Syekh dan kadang diakhiri dengan rahimahu-Llah atau hafidzahulLah.
Seperti, Syeikh Utsaimn, Syeikh Bin Baz, dll.
Tapi, menyebut ulama-ulama lain cukup dengan memanggil namanya saja.

※   Oleh karena itu, saat kita membaca buku, kitab atau browsing di internet,
Tidak sulit menenggarai pada fatwa ulama Yang bukan Wahabi,
Mana fatwa yang berasal dari Wahabi Salafi dan
Mana tulisan sebuah website atau blog yang penulisnya adalah pengikut Wahabi.

= Sayangnya, tidak sedikit dari kalangan awam yang terkadang tidak sadar bahwa fatwa agama dalam buku atau situs internet yang mereka baca berasal dari fatwa Wahabi Salafi.
Semoga dengan informasi ini, para pencari informasi keagamaan akan semakin tercerahkan.

————————————————————————————————

By Hasan Baroom

Dimana Kuburan Syekh Muhammad bin Abdul Wahab?

jurus jitu membungkam syeikh, ustad dan para pengikut salafi wahabi, jika bertemu mereka dimimbar, khutbah jum'at ... tanyakan pertanyaan ini :

"wahai syeikh atau ustad , saya kagum dengan muhammad bin abdulwahab, saya ingin berziarah ke makam beliau mendo'akan beliau, mohon beritahu saya dimanakah makam syeikh tersebut dan apakah ustad pernah berziarah kesana ? jika pernah maka dimanakah kuburannya? bisa ustad tunjukkan foto atau gambar kuburan muhammad bin abdulwahab? "

dijamin 100% ditanya begitu para syeikh, ustad dan pengikut salafi wahabi langsung bungkam !!! buktikan saja sendiri

jadi membungkam penganut agama salafi wahabi ga usah pake dalil, ga usah pake otot, ga usah ilmu tinggi-tinggi, ditanya begitu saja mereka sudah diam seribu bahasa atau ngamuk-ngamuk kok, :v :v

silakan ajukan pertanyaan itu di blog, website, fanspage, dan akun wahabi lover, dijamin 100% mereka tidak akan bisa jawab menunjukkan bukti adanya kuburan muhammad bin abdulwahab,,....

nb : paling paling setelah ditanya seperti itu kalian akan dibilang "KAMU KAFIR YACH?! KAMU SYIAH YACH ?! PASTI KAMU AHLUL BID'AH YACH ?!" :) :)

Tuesday, February 2, 2016

Maksiat Lebih Baik dari Bid'ah?

ada ustad salafi wahabi berkata  begini :" lihatlah kemaksiatan makin merajalela, kejahatan makin merajalela"

saya menjawab dengan menyeletuk : " lah ini kan gara-gara elu dan pengikut lu semua makanya kemaksiatan dan kejahatan makin merajalela, bukannya elu senang??"

ustad salafi wahabi berkata " lha kenapa salah gue, kenapa kami yang menyebabkan maksiat dan kejahatan makin merajalela? jangan fitnah apa buktinya ??

saya menjawab : "masih ingat ga slogan yang kalian gadang-gadangkan "MAKSIAT LEBIH BAIK DARIPADA BID'AH" , nah akibat slogan kalian ini akhirnya berapa banyak orang-orang tertipu dan malah memilih maksiat daripada menghadiri majelis taklim yang mengajak merayakan MAULID NABI MUHAMMAD SAW, majelis DZIKIR, majelis SHOLAWAT yang kalian tuduh BIDAH .... walhasil para ahli maksiat malah menyambut senang ide brilian kalian, tadinya diskotik sepi sekarang jadi ramai berkat slogan kalian, malah banyak diskotik sekarang malah buka cabang, kami mengadakan MAULIDAN NABI MUHAMMAD SAW agar ummat datang dan menghadiri tempat kebaikan untuk menghindari maksiat, nongkrong-nongkrong kongkow ga jelas,

Kami mengajak masyarakat tahlilan agar masyarakat kumpul dalam kebaikan, daripada nongkrong main gaplek atau cuman melakukan hal-hal sia-sia

kami mengajak masyarakat dzikiran agar masyarakat mau berkumpul dalam halaqoh lautan ilmu dan lebih banyak menyebut asma ALLAHU dan meninggalkan ghibah, daripada ngegosipin orang atau menghadiri konser-konser yang didalamnya bercampur baur dengan kemaksiatan, tapi gara-gara kalian tempat tongkrongan penuh maksiat berjamur, acara gosip malah makin banyak dan diminatin, ghibah sana sini menjadi kebiasaan

Ketika kemaksiatan merajalela maka kejahatan semakin merajalela, akibat slogan yang kalian propagandakan dan  gadang-gadangkan walhasil banyak ABABIL memilih menghabiskan waktunya dengan nongkrong-nongkrong ketimbang belajar ngaji, tidak sedikit ABABIL yang menelan mentah-mentah propaganda busuk kalian yang kalian sebar di dunia maya, blog, sosial media

pelacuran makin merajalela, lihatlah berapa banyak pelacur berkedok agama bermunculan, mereka melakukan nikah mut'ah dan misyar secara sembunyi-sembunyi , pelacur ini malah senang ide brilian yang mengusung ide nikah mutah dan misyar kalian, akibat ide kalian mereka aman dan terhindar razia, cukup pakai cadar saja maka orang-orang akan menganggap "oh dia isteri si anu" padahal kalau diminta surat nikah mereka pelaku misyar ga akan bisa nunjukkan buktinya

Dan ketika semua itu terjadi kalian bingung sendiri dan mencari kambing hitamnya ?? bukannya introspeksi diri dan sadar malah menyalahkan orang

kalau kalian terus memusuhi majelis dzikir, majelis maulid, majelis sholawat maka kemaksiatan bukan makin sedikit malah makin tambah banyak, dan ahli maksiat menyambut baik dan mensupport ide brilian kalian "MAKSIAT LEBIH BAIK DARIPADA BID'AH"

KALIAN MENUDUH BID'AH yang bukan BID'AH, tapi kalian malah mengerjakan MAKSIAT dan menganggap itu boleh dan SUNNAH !!

Akibat ulah kalian muncul lah 3 penjahat :

1. PEMBUNUH BERKEDOK AGAMA yang menganggap diri mujahidin padahal mereka adalah TERORIS, mencari dana dan uang dengan cara merampok tapi ngaku-ngaku ghanimah

2. PENJAHAT KELAMIN BERKEDOK AGAMA yang isi kepalanya "selangkangan" dan hawa nafsu, melakukan perzinaan berkedok agama, nikah resmi ga mau karena ga bisa gonta ganti pasangan jadi penjahat kelamin memilih menikah misyar atau mut'ah
Wanita baik-baik kalian tuduh pelacur, tapi yang jelas pelacur berkedok agama dengan menutupi diri dengan cadar malah kalian bela

3. PEDAGANG IMAN DAN AYAT-AYAT ALLAHU, menjual buku-buku busuk , penipuan dan menyebarkan berita bohong di dunia maya lalu kalian meminta sumbangan dan donasi dari masyarakat yang berhasil kalian tipu

kalianlah salafi wahabi sumber fitnah dan petakanya !!!

nb : silakan copas dan share !!!

Pendaftaran Dauroh 40 Hari menghafal Al-Qur'an

📖 Pendaftaran Dauroh 40 Hari menghafal Al-Qur'an 📖

Bismillaah, Al-Qur'an Memorization Training Yogyakarta kembali menggelar Dauroh 40 Hari Menghafal Al-Quran. Angkatan ke #4 ini membuka kesempatan untuk PUTRA dan PUTRI.

Segera persiapkan diri anda!

Tanggal penting

Pendaftaran dan Audisi
📅 1 Februari - 31 Maret 2016

Karantina
📅 9 April - 22 Mei 2016

Wisuda
📅 22 Mei 2016

📝 Persyaratan :
1.Muslim usia 13 tahun keatas
2.Lancar membaca Al Qur'an sesuai kaidah tajwid
3.Siap dikarantina selama 40 hari
4.Sehat jasmani & rohani

📝 Pendaftaran ketik SMS/WA :
📱 Format Pendaftaran :
Daftar/Nama/Umur/Asal/Pekerjaan/No.Hp
Contoh:
Daftar/Abdullah/20/Makassar/Mahasiswa/081234567
Kirim ke:
✅ 085640449177 (Pa)
✅ 085729950131 (Pi)

📝  Kontak Person:
📱(Telp/SMS/WhatsApp)
085640449177 (Pa)
085729950131 (Pi)

"Dan Sungguh Telah Kami mudahkan Al Qur'an untuk dihafalkan maka adakah yang mau menghafalkannya " (QS.Al Qamar:17,22,32,40)

Kisah Syekh Nawawi Banten: Kaki Bisa Menyala, Jasadnya Tetap Utuh

Nama Syekh Nawawi Banten sudah tidak asing lagi bagi umat Islam Indonesia. Bahkan sering terdengar disamakan kebesarannya dengan tokoh ulama klasik madzhab Syafi’i Imam Nawawi (676 Hijriah atau l277 Masehi). Melalui karya-karyanya yang tersebar di pesantren-pesantren tradisional yang sampai sekarang masih banyak dikaji.

Nama kiai asal Banten ini seakan masih hidup dan terus menyertai umat memberikan wejangan ajaran Islam yang menyejukkan.

Di setiap majlis ta’lim, karyanya selalu dijadikan rujukan utama dalam berbagai ilmu, mulai dari ilmu tauhid, fiqh, tasawuf sampai tafsir.

Karya-karyanya sangat berjasa dalam mengarahkan mainstream keilmuan yang dikembangkan di lembaga-Iembaga pesantren yang berada di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU).

Sayid ’Ulamail Hijaz adalah gelar yang disandangnya. Sayid adalah penghulu, sedangkan Hijaz wilayah Saudi sekarang, yang di dalamnya termasuk Mekkah dan Madinah.

Dialah Syekh Muhammad Nawawi, yang lebih dikenal orang Mekkah sebagai Nawawi al-Bantani, atau Nawawi al-Jawi.

"Al-Bantani menunjukkan bahwa ia berasal dari Banten, sedangkan sebutan Al-Jawi mengindikasikan muasalnya yang Jawa, sebutan untuk para pendatang Nusantara karena nama Indonesia kala itu belum dikenal. Kalangan pesantren sekarang menyebut ulama yang juga digelari asy-Syaikh al-Fakih itu sebagai Nawawi Banten," kata Ismetullah Al Abbas, pewaris Kesultanan Banten, ketika ditemui di rumahnya di kompleks Masjid Banten, Banten, beberapa waktu lalu.

Menurut sejarah, Syekh Nawawi Banten memiliki nama lengkap Abu Abd al-Mu’ti Muhammad bin Umar al- Tanara al-Jawi al-Bantani.

Ia lebih dikenal dengan sebutan Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani. Dilahirkan di Kampung Tanara, Serang, Banten pada tahun 1815 Masehi atau 1230 Hijriah. Pada tanggal 25 Syawal 1314 Hijriah atau 1897 Masehi. Nawawi menghembuskan nafasnya yang terakhir di usia 84 tahun.

Memiliki karomah kakinya bersinar saat gelap

Sebagai tokoh kebanggaan umat Islam di Jawa khususnya di Banten, Umat Islam di Desa Tanara, Tirtayasa, Banten, setiap tahun di hari Jumat terakhir bulan Syawwal selalu diadakan acara khol untuk memperingati jejak peninggalan Syekh Nawawi Banten.

Ismet mengungkapkan, Syekh Nawawi memiliki karomah. Di antara karomah beliau adalah, saat menulis syarah kitab Bidayatul Hidayah (karya Imam Ghozali), lampu minyak beliau padam, padahal saat itu sedang dalam perjalanan dengan unta. Tapi di jalan pun ia tetap menulis.

Beliau berdoa, bila kitab ini dianggap penting dan bermanfaat buat kaum muslim, ia mohon kepada Allah SWT memberikan sinar agar bisa melanjutkan menulis.

"Tiba-tiba jempol kaki beliau mengeluarkan api, bersinar terang, dan beliau meneruskan menulis syarah itu hingga selesai dan bekas api di jempol tadi membekas, hingga saat Pemerintah Hijaz memanggil beliau untuk dijadikan tentara (karena badan beliau tegap), ternyata beliau ditolak, karena adanya bekas api di jempol tadi," ujarnya.

Bertahun-tahun dikubur jasad utuh

Karomah yang lain, tampak saat beberapa tahun setelah beliau wafat, makamnya akan dibongkar oleh pemerintah untuk dipindahkan tulang belulangnya dan liang lahatnya akan ditumpuki jenazah lain (sebagaimana lazim di Ma’la).

Saat itulah para petugas mengurungkan niatnya, sebab jenazah Syekh Nawawi (beserta kafannya) masih utuh walaupun sudah bertahun-tahun dikubur.

"Bila pergi ke Mekkah, Insya Allah kita akan bisa menemukan makam beliau di Pemakaman Umum Ma’la. Banyak juga kaum muslimin yang mengunjungi rumah bekas peninggalan beliau di Tanara, Serang, Banten. Letaknya di belakang masjid Nawawi di Tanara," ujar Ismet.

Kyai Hashim Ashari sering disebut sebagai tokoh yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah berdirinya NU, maka Syekh Nawawi adalah guru utamanya.

Konon, di sela-sela pengajian kitab-kitab karya gurunya ini, seringkali Kyai Hashim Ashari bernostalgia bercerita tentang kehidupan Syekh Nawawi, kadang mengenangnya sampai meneteskan air mata karena besarnya kecintaan beliau terhadap Syekh Nawawi.
_______________________

Sumber: http://nasional.news.viva.co.id/news/read/639044-kisah-syekh-nawawi--kaki-bisa-menyala--jasadnya-tetap-utuh/1